Tuesday, September 20, 2011

Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran

Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah keatas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya, shahabatnya dan mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
Phenomena yang terjadi baru-baru ini yaitu kemunculan jejak UFO berupa circle crop di Sleman Yogyakarta menggegerkan rakyat Indonesia terutama warga sekitar karena ini yang pertama terjadi di negara kita.
Sebagian orang langsung percaya bahwa itu memang jejak UFO dan memang makhluk luar angkasa benar-benar ada, sedangkan sebagian orang terburu-buru mengingkarinya dan mengatakan bahwa makhluk luar angkasa itu tidak ada.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang muslim yang diwajibkan percaya kepada yang ghaib yang tidak bisa kita lihat menyikapi phenomena seperti ini?
Bagaimana phenomena makhluk luar angkasa jika ditinjau dari Al-Qur’an?
Harus diketahui bahwa Yang menciptakan manusia dari tidak ada dan membentuknya dan meniupkan padanya dari ruh-Nya, dan mengokohkan ciptaan alam semesta ini termasuk keajaiban yang ada didalamnya, adalah juga Maha Kuasa untuk menciptakan luar angkasa dan makhluknya, Al-Qur’an telah menunjukkan adanya makhluk-makhluk yang tidak diketahui oleh manusia dimasa kenabian, demikian juga Al-Qur’an menunjukkan peran dari penemuan ilmiyah, dan bahwa setiap berita akan ada waktu kemunculannya, Allah Azza wa Jalla berfirman:
(وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ) (النحل:8)
Artinya: (dan dia telah menciptakan kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.) [QS An-Nahl: 8].
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa ada beberapa makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta'aala dari jenis hewan yang kita tidak mengetahuinya, ini karena Allah Ta'aala menyambungkan makhluk tersebut dengan kuda, bagal dan keledai yang merupakan jenis hewan.
Dan disebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa ayat lainnya yang sepertinya mengisyaratkan adanya binatang di langit dan bumi, diantaranya firman Allah Ta’alaa:
(وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاء قَدِيرٌ) (الشورى:29)
Artinya: (di antara tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya) [QS Asy-Syuura: 29].
Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz daabbah (makhluk melata)menunjukkan bahwa itu makhluk-makhluk selain malaikat karena Allah Azza wa Jalla membedakan antara makhluk yang melata dengan malaikat dalam menyebutkannya dalam firman-Nya:
(وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ) (النحل:49)
Artinya: (dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri) [QS An-Nahl: 49).
Allah Ta’alaa menyebutkan dalam ayat diatas makhluk-makhluk melata di langit dan makhluk melata di bumi kemudian baru menyebutkan para malaikat.
Dengan ayat-ayat seperti ini sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak ada salahnya ini menjadi isyarat atas wujudnya alam-alam lain, akan tetapi sepatutnya kita tidak memastikan hal ini, karena ayat-ayat seperti ini bisa mengandung kemungkinan lebih dari satu pentakwilan.(Fatwa dari Syeikh Abdullah Al-Faqih hadidzohullah Ta'alaa)
Adapun pendapat bahwa makhluk-makhluk ini yang menciptakan manusia dengan bentuk yang menyerupainya dengan perantara DNA dan bahwa dia merupakan kekuatan ajaib yang mengakibatkan wujudnya manusia, maka ini secara hakikatnya merupakan pendapat yang batil yang menafikan akidahnya.
Kesimpulan:
Meskipun Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam beberapa ayatnya tentang kemungkinan keberadaan makhluk di luar angkasa, namun kita tidak boleh memastikan bahwa phenomena yang terjadi di bumi merupakan jejak keberadaan mereka, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat secara langsung wujud mereka seperti yang sering dilukiskan dalam film-film, demikian juga kita tidak boleh menafikan secara langsung keberadaan mereka karena Al-Qur’an telah memberi isyarat yang memungkinkan keberadaan mereka.
Tapi kita tidak boleh terlalu menyibukkan diri mendalami tentang masalah ini karena bukan termasuk perkara ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kita untuk mengharap pahala dan ridlo-Nya di dunia dan akhirat.
Wallau A’lam bishowab.
(ar/voa-islam.com)

When Egypt turned off the internet

When Egypt turned off the internet
Egypt goes off the digital map as authorities unplug the country entirely from the internet ahead of protests.
Last Modified: 28 Jan 2011 09:12 GMT
Twitter confirmed on Tuesday that its service was being blocked in Egypt, and Facebook reported problems [EPA]
About a half-hour past midnight on Friday in Egypt, the internet went dead.
Almost simultaneously, the handful of companies that pipe the internet into and out of Egypt went dark as protesters were gearing up for a fresh round of demonstrations calling for the end of president Hosni Mubarak's nearly 30-year rule, experts said.
Egypt has apparently done what many technologists thought was unthinkable for any country with a major internet economy: It unplugged itself entirely from the internet to try and silence dissent.

Experts say it is unlikely that what has happened in Egypt could happen in the United States because the US has numerous internet providers and ways of connecting to the internet. Co-ordinating a simultaneous shutdown would be a massive undertaking.
"It can't happen here"
"It can't happen here," said Jim Cowie, the chief technology officer and a co-founder of Renesys, a network security firm in Manchester, New Hampshire, that studies internet disruptions.

"How many people would you have to call to shut down the US internet? Hundreds, thousands maybe? We have enough internet here that we can have our own internet. If you cut it off, that leads to a philosophical question: Who got cut off from the internet, us or the rest of the world?"
In fact, there are few countries anywhere with all their central internet connections in one place or so few places that they can be severed at the same time. But the idea of a single "kill switch" to turn the internet on and off has seduced some American lawmakers, who have pushed for the power to shutter the internet in a national emergency.
The internet blackout in Egypt shows that a country with strong control over its internet providers apparently can force all of them to pull their plugs at once, something that Cowie called "almost entirely unprecedented in internet history."
The outage sets the stage for blowback from the international community and investors. It also sets a precedent for other countries grappling with paralysing political protests, though censoring the Internet and tampering with traffic to quash protests is nothing new.
Disrupted services

China has long restricted what its people can see online and received renewed scrutiny for the practice when internet search leader Google Inc. proclaimed a year ago that it would stop censoring its search results in China.
In 2009, Iran disrupted I=internet service to try to curb protests over disputed elections. And two years before that, Burma's internet was crippled when military leaders apparently took the drastic step of physically disconnecting primary communications links in major cities, a tactic that was foiled by activists armed with cell phones and satellite links.
Computer experts say what sets Egypt's action apart is that the entire country was disconnected in an apparently co-ordinated effort, and that all manner of devices are affected, from mobile phones to laptops. It seems, though, that satellite phones would not be affected.
"Iran never took down any significant portion of their Internet connection, they knew their economy and the markets are dependent on Internet activity," Cowie said.
When countries are merely blocking certain sites, like Twitter or Facebook, where protesters are co-ordinating demonstrations, as apparently happened at first in Egypt, protesters can use "proxy" computers to circumvent the government censors. The proxies "anonymise" traffic and bounce it to computers in other countries that send it along to the restricted sites.
But when there is no internet at all, proxies can't work and online communication grinds to a halt.
Renesys' network sensors showed that Egypt's four primary internet providers, Link Egypt, Vodafone/Raya, Telecom Egypt, Etisalat Misr, and all went dark at 12:34am. Those companies shuttle all internet traffic into and out of Egypt, though many people get their service through additional local providers with different names.
Italy-based Seabone said no internet traffic was going into or out of Egypt after 12:30am local time.
Country disappeared
"There's no way around this with a proxy," Cowie said. "There is literally no route. It's as if the entire country disappeared. You can tell I'm still kind of stunned."
The technical act of turning off the internet can be fairly straightforward. It likely requires only a simple change to the instructions for the companies' networking equipment.
Craig Labovitz, chief scientist for Arbor Networks, a Chelmsford, Massachusetts, security company, said that in countries such as Egypt, with a centralised government and a relatively small number of fibre-optic cables and other ways for the internet to get piped in the companies that own the technologies are typically under strict licenses from the government.
"It's probably a phone call that goes out to half a dozen folks who enter a line on a router configuration file and hit return," Labovitz said. "It's like programming your TiVo, you have things that are set up and you delete one. It's not high-level programming."
Twitter confirmed on Tuesday that its service was being blocked in Egypt, and Facebook reported problems.
"Iran went through the same pattern,"Labovitz said. "Initially there was some level of filtering, and as things deteriorated, the plug was pulled. It looks like Egypt might be following a similar pattern."
The ease with which Egypt cut itself also means the country can control where the outages are targeted, experts said. So its military facilities, for example, can stay online while the Internet vanishes for everybody else.
Experts said it was too early to tell which, if any, facilities still have connections in Egypt.
Cowie said his firm is investigating clues that a small number of small networks might still be available.
Meanwhile, a programme Renesys uses that displays the percentage of each country that is connected to the internet was showing a figure that he was still struggling to believe. Zero.
Source:
Associated Press

Tanda Husnul Khatimah yang Bisa Dirasakan Orang yang Akan Meninggal

Tanda Husnul Khatimah yang Bisa Dirasakan Orang yang Akan Meninggal

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk hamba dan Rasul-Nya, Muhammad bin Abdillah beserta keluarga dan para sahabatnya.
Bergantinya tahun bukanlah menambah panjang hidup, tapi sesungguhnya menambah cepat datangnya ajal. Karenanya, bagi seorang muslim harus lebih giat lagi mempersiapkan bekal untuk mengarungi perjalanan panjang sesudahnya. Dan bekal terbaik adalah takwa kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Dan siapa yang berbekal takwa di dunia, maka takwa tersebut akan memberikan manfaat baginya kelak di akhirat.
Dan bekal terbaik adalah takwa kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Ingat, Kematian Pasti Datang!
Tumpukan harta, gemerlapnya dunia, dan kesibukan mencari materi sering melupakan kita akan kematian. Padahal kematian adalah suatu kepastian. Tak seorangpun yang bisa lepas darinya. Ke mana saja kita berlari, di mana kita sembunyi, dan di benteng mana kita berlindung tetaplah kematian pasti akan menemukan kita.
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaaf: 19)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. Al-Nisa’: 78)
Kondisi Insan Saat Kematian Datang
Keadaan seseorang saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam hadits yang shahih :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ
Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya.” (HR. Bukhari dan selainnya)
Saat itu, manusia ada pada satu dari dua kondisi. Yaitu husnul khatimah atau su’ul khatimah. Siapa yang mendapat hunsul khatimah (akhir hayat yang baik), sungguh dia berbahagia dengan kondisi setelahnya. Ia menghadapai kematian dengan tenang dan rindu bertemu dengan Rabb-nya yang senantiasa dia agungkan. Sebaliknya, siapa yang berada di atas su’ul khatimah, dia akan menderita sesudahnya. Sedangkan kematian yang ada di hadapannya menjadi sesuatu yang sangat menakutkan baginya.
Sementara itu, kondisi seseorang pada detik-detik terakhir kehidupannya ini, tergantung amal perbuatan pada masa lampau. Barangsiapa yang mengisi hidupnya dengan berbuat baik, -Insya Allah- akhir hidupnya baik. Dan jika sebaliknya, maka sudah tentu kejelekan yang akan menimpanya. Allah tidak akan pernah menzhalimi para hamba-Nya, meskipun sedikit.
. . . kondisi seseorang pada detik-detik terakhir kehidupannya ini, tergantung amal perbuatan pada masa lampau. Barangsiapa yang mengisi hidupnya dengan berbuat baik, -Insya Allah- akhir hidupnya baik.
Tanda Husnul Khatimah yang Dirasakan Oleh yang Sedang Meninggal
Pastinya setiap kita berharap husnul khatimah. Namun itu bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itulah, seorang hamba Allah yang shalih sangat merisaukannya. Mereka melakukan amal shalih tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah agar Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah sampai meninggal. Mereka berusaha merealisasikan wasiat Allah Azza wa Jalla,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri)”. (QS. Ali Imran: 102)
Husnul khatimah memiliki banyak tanda-tandanya. Sebagiannya bisa diketahui oleh orang lain yang ada disekitarnya (walaupun tidak bisa dijadikan sebagai suatu kepastian). Dan sebagian yang lain, hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh orang yang menghadapi kematian tersebut.
Tanda husnul khatimah yang diketahui dan dirasakan oleh yang orang yang akan meninggal dunia adalah bisyarah (kabar gembira) mendapat ridha Allah dan kemuliaan dari-Nya saat kematian tiba. Hal sebagaimana yang Allah 'Azza wa Jalla firmankan,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Al-Fushilat: 30)
Dan bisyarah ini bagi orang-orang mukmin ketika menghadapi kematian, ketika berada di kuburnya, dan saat dibangkitkan dari kubur-kubur mereka pada hari kiamat. (Dinukil dari Khalid Bin Abdurrahman al-Syayi’ dalam makalahnya, “‘Alamaat wa Asbab husnil Khatimah wa Su’il Khatimah”.)
Dalil lain yang menguatkannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya,  dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
Siapa yang suka bertemu dengan Allah, maka allah pun suka bertemu dengannya. Sebaliknya, siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah juga benci bertemu dengannya.
Lalau Aisyah bertanya, “Wahai Nabi Allah, Apa maksud benci kematian itu, padahal kami semua benci kematian?” Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab,
لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
Bukan seperti itu (maksudnya). Akan tetapi, seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira tentang rahmat dan ridha Allah serta janah-Nya, maka ia akan suka bertemu Allah. Dan sesungguhnya orang kafir, apabila diberi kabar tentang azab Allah dan kemurkaan-Nya, maka ia akan benci untuk bertemu Allah, dan Allah-pun membenci bertemu dengannya.
Imam Abu ‘Ubaid Al-Qayim bin Salam rahimahullaah menjelaskan makna hadits ini, “Menurutku maknanya bukan membenci kematian dan kedahsyatannya, karena tak seorangpun bisa menghindarinya. Tetapi yang dicela dari semua itu adalah mengutamakan dunia dan cenderung kepadanya serta membenci untuk kembali kepada Allah dan negeri akhirat.” Beliau rahimahullaah mendasarkan penjelasannya tersebut pada firman Allah Ta’ala yang mencela suatu kaum karena mencintai kehidupan dunia.
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آَيَاتِنَا غَافِلُونَ  أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)
Al-Imam al-Khatthabi rahimahullaah juga menjelaskan mengenai maksud hadits di atas, “Maksud dari kecintaan hamba untuk bertemu Allah, yaitu ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya, ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya. Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya”.
Orang yang suka bertemu dengan Allah: Ia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karenanya, ia tidak senang tinggal terus-menerus di dunia, bahkan siap meninggalkannya. Sedangkan makna kebencian adalah sebaliknya
Imam Nawawi rahimahullaah berkata,”Secara syari’at, kecintaan dan kebencian yang diperhitungkan adalah saat dicabutnya nyawa yang saat itu taubat tidak lagi diterima. Maka pada saat itu, setiap orang akan diberi kabar tentang tempat kembalinya dan apa yang telah disediakan untuknya, dan akan disingkapkan semua itu kepadanya. Karenanya, Ahlus Sa’adah (orang-orang yang berbahagia) mencintai kematian dan suka bertemu dengan Allah serta berpindah kepada apa yang dijanjikan untuk mereka. Dan Allah-pun suka bertemu dengan mereka, maknanya: akan memberikan balasan yang banyak dan kemuliaan. (Sebaliknya) orang-orang yang menderita (celaka) membenci bertemu dengan Allah karena mengetahui tempat buruk yang akan ditinggalinya. Sehingga Allah juga benci bertemu dengan mereka, maknanya: menjauhkan mereka dari rahmat dan kemuliaan-Nya . . “ (Disarikan dari Syarah Shahih Muslim)
Penutup
Semoga Allah memilih kita menjadi hamba-Nya yang dikaruniakan husnul khatimah. Dia mengutus malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada kita saat ajal menjemput. Sehingga kita senang bertemu dengan Allah dan mendapatkan kabaikan yang telah Dia janjikan.
Namun, kondisi seperti itu tidak datang dengan sendirinya. Perlu ada usaha untuk merealisasikannya. Yaitu dengan menjaga Iman dan melaksanakan tuntutannya berupa istiqamah (kontinyu dan ajeg) menjalankan ketaatan dan ketakwaan. [PurWD/voa-islam.com]
Tulisan Terkait:
2. 19 Tanda Husnul Khatimah

Orang Jahil Lebih Mudah Digelincirkan Setan

Orang Jahil Lebih Mudah Digelincirkan Setan

Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Setelah diusir dari surga karena kesombongannya menentang perintah Allah Ta’ala, setan berjanji akan menyesatkan manusia dengan segala upaya. Dia datang dari segenap penjuru dan menempuh semua jalan untuk memuluskan tujuannya tadi sehingga kebanyakan manusia menjadi kufur kepada Tuhannya.
 قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. al-A’raf: 16-17)
Bahkan syetan terlaknat itu menghendaki dari seribu hamba Allah, Sembilan ratus sembilan puluh sembilan untuk mereka dan hanya satu untuk Allah.
وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآَمُرَنَّهُمْ
Syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka. . . ” (QS. Al-Nisa’: 118-119)
Panah-panah bisikan setan senantiasa diarahkan kepada hati-hati yang beriman. Karenanya, setiap muslim pasti akan merasakan bisikan tersebut ketika dia mulai menanamkan keimanan, meluruskan dan memperkuatnya, ketika membenahi ibadah dan kehendaknya.
Setan berusaha menjerat manusia untuk kufur. Bila gagal, maka dia akan menjerat dengan kebid’ahan. Bila jeratan bid’ah lolos, maka dia akan menjerat dengan dosa-dosa besar, kemudian dengan jeratan dosa-dosa kecil. Jika dengan itu masih lolos juga, maka jeratan selanjutnya berupa perbuatan mubah untuk melalaikan ibadah. Jeratan selanjutnya, setan akan menyibukkan manusia dengan amal-amal yang kurang utama supaya meninggalkan yang lebih utama. Dan terakhir, jeratan yang hampir-hampir setiap muslim tidka mampu meloloskan diri, yaitu penindasan dan penyiksaan musuh-musuh Islam. (Lihat: Menelanjangi Syetan, Ibrahim bin Muhammad al-Maqdisi, Darul Haq, hal. 132)
Pemahaman Agama Penangkal dari Setan
Jerat-jerat setan dan syubuhatnya begitu luar bisa. Sangat beragam dan penuh dengan tipuan. Jika seseorang memiliki pegangan ilmu, -insya Allah- dia akan menyadarinya. Lekas berlindung kepada Allah, tetap teguh di atas tuntunan syariah, dan tidak menghiraukan bisikan-bisikan dan was-was yang dihembuskan setan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ () وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لا يُقْصِرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (al-A’raf: 201-202)
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullaah pernah menceritakan, “Saya pernah kepanasan dalam suatu bepergian, hampir-hampir aku mati karena kehausan. Lalu datang awan hitam menaungiku dan angin dingin bertiup kepadaku sehingga ludah di mulutku mencair lagi. Dan saat itu aku mendengar ada suara memanggilku, “Wahai Abdul Qadir saya adalah tuhanmu.” Saya katakan kepadanya, “Apakah Engkau Allah yang tiada tuhan selain Dia?” Lalu suara itu memanggilku untuk kedua kalinya, “Wahai Abdul Qadir aku adalah tuhanmu, sekarang aku menghalalkan apa yang sudah aku halalkan kepadamu?”
Saya katakan kepadanya, “Kamu berdusta dan sebenarnya kamu adalah setan.” Seketika itu awan itu pecah berantakan dan saya mendengar dari belakangku ada suara yang memanggilku, “Wahai Abdul Qadir, kamu selamat dariku karena kefahamanmu terhadap agama dan aku telah berhasil menfitnah tujuh puluh orang dengan cara ini sebelummu.”
Syaikh Abdul Qadir ditanya, “Bagaimana Anda tahu itu adalah setan?” Beliau menjawab, “Tatkala dia mengatakan bahwa dia menghalalkan apa yang diharamkan. Sejak itu saya mengetahuinya, sebab sesudah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak ada orang yang mempunyai hak untuk menghalalkan dan mengharamkan. Dengan demikian Allah telah menyelamatkan dengan ilmu yang bermanfaat.” (Dikutip dari Menelanjangi Setan, hal. 139-140)
“Tatkala dia mengatakan bahwa dia menghalalkan apa yang diharamkan. Sejak itu saya mengetahuinya, sebab sesudah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak ada orang yang mempunyai hak untuk menghalalkan dan mengharamkan. . . " Syaikh Abdul Qadi al-Jailani
Orang Jahil Lebih Mudah Digelincirkan Setan
Kalau pemahaman agama bisa menjadi penangkal dari godaan setan dan menyelamatkan pemiliknya dari tipu dayanya, maka sebaliknya kebodohan menjadi jalan masuk setan untuk menyesatkan hamba. Karena itu yang paling banyak berhasil digelincirkan setan adalah orang yang minim ilmu dien, walau dia seorang ahli ibadah. Boleh jadi dia sibuk dengan ibadah padahal dia dalam jerat setan namun tidak menyadarinya.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ
Satu orang alim ulama lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Seorang alim (orang yang dalam ilmu agamanya) tidak terpedaya dengan tipu daya setan dan senantiasa menyuruh manusia berbuat baik, padahal setan senantiasa menyuruh berbuat jelek. Setiap setan membuka pintu hawa nafsu untuk manusia dan menghiasi hati mereka dengan syahwat, maka seorang alim yang memahami tipu daya dan jerat setan akan menjelaskannya kepada manusia, menutup segala pintu yang mengarah ke sana sehingga akhirnya setan pun gigit jari dan merugi. Oleh karena itu, kematian seorang alim jauh lebih menyenangkan bagi setan daripada kematian seorang ‘abid.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, bahwa syetan berkata kepada Iblis, “Wahai pemimpin kami , sesungguhnya kami bergembira atas kematian satu orang alim dan tidak bergembira atas kematian seorang ahli ibadah.”
. . . kebodohan menjadi jalan masuk setan untuk menyesatkan hamba.
Karena itu yang paling banyak berhasil digelincirkan setan adalah orang yang minim ilmu dien, walau dia seorang ahli ibadah.
Kisah Barseso
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menceritakan, ada seorang ahli zuhud bernama Barseso. Dia beribadah dalam kuil selama tujuh puluh tahun yang tidak pernah bermaksiat sedikitpun. Lalu iblis ingin menggoda dengan ilmu hilah (rekayasa), maka pada suatu saat dia mengumpulkan para pembesar setan dan berkata, “Adakah di antara kalian yang mampu merusak Barseso?” Setan putih berkata kepada Iblis, “Saya sanggup merusaknya.” Lalu ia berangkat ke tempat Barseso dengan mengenakan pakaian ulama dan mengenakan sesuatu di atas kepalanya, lalu datang ke kuil Barseso dan memanggilnya. Tetapi dia tidak menjawabnya.
Barseso tidak berhenti dari beribadah kecuali setiap sepuluh hari sekali. Tatkala setan putih tak mampu mengambil perhatian Barseso, maka dia berpura-pura shalat dan beribadah di dalam kuil itu. Maka setelah Barseso selesai dari shalat dan ibadahnya, dan ingin beranjak keluar, dia melihat setan putih itu tampil seperti ulama yang sedang shalat dan beribadah dengan bentuk yang sangat bagus. Lalu Berseso bertanya kepadanya, “Kamu tadi memanggilku sementara aku sedang sibuk shalat, apa yang kamu perlukan?”
Dia menjawab, saya ingin bersamamu untuk belajar ilmu dan menirukan amalmu serta kita bersama beribadah sehingga aku bisa mendoakanmu dan kamu juga mendoakanku.”
Barseso berkata, “Saya tidak bisa bersamamu, jika kamu seorang mukmin, maka kamu mendapatkan bagian dari doaku yang kutujukan bagi semua orang mukmin.” Kemudian dia beranjak shalat dan meninggalkan setan itu. Maka setan itu pun beranjak shalat dan setelah itu Barseso tidak menoleh kepadanya selama empat puluh hari.
Setelah Barseso selesai shalat, dia melihat setan sedang berdiri shalat. Tatkala dia melihat kesungguhannya, maka dia berkata kepadanya, “Apa yang kamu butuhkan?” Setan menjawab, “Saya ingin kamu memberi izin kepadaku untuk naik ke kuil bersamamu.” Lalu dia memberi izin naik di kuil dan beribadah bersama Barseso beberapa waktu, tidak berbuka dan tidak berhenti dari ibadah kecuali setelah empat puluh hari bahkan terkadang sampai delapan puluh hari. Maka tatkala melihat kesungguhan dia dalam beribadah, Barseso merasa rendah hati berada di hadapannya dan kagum terhadap kehebatan ibadah setan putih itu. Dan setelah lama beribadah bersama Barseso, setan berkata kepadanya, “Saya ingin pergi karena saya memiliki teman selain kamu. Saya mendapat berita kamu lebih baik daripadanya, ternyata saya mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkiraan saya sebelumnya.”
Kemudian Barseso merasakan sesuatu yang besar dalam batinnya sehingga tidak mau berpisah dengannya karena dianggap lebih baik ibadahnya daripada dirinya.
Ringkas cerita, pada saat berpisah, setan mengajari Barseso doa-doa untuk menyembuhkan orang sakit dan gila. Kemudian setan putih itu menggangu seorang gadis Bani Israil yang memiliki tiga saudara laki-laki. Dahulu bapak mereka adalah raja, setelah bapaknya meninggal, ia digantikan saudara laki-lakinya, yaitu paman gadis itu. Setan menyiksa dan mencekik gadis tersebut. Lalu setan datang kepada keluarga tersebut dan mengabarkan tentang Barseso yang mampu mengobatinya. Setan menyaratkan agar gadis itu ditinggal bersama Barseso dan mempercayakan kepadanya karena dia seorang ahli ibadah.
Pada awalnya Barseso menolak gadis itu untuk dititipkan padanya. Namun akhirnya, saudara-saudaranya membuatkan kuil dekat kuil Barseso dan meninggalkan saudara gadisnya di sana.
Setelah selesai shalat, Barseso melihat ada gadis cantik berada di dekatnya. Maka dia mulai jatuh hati dan tergoda. Lalu setan mengganggu gadis itu, lalu Barseso berdoa dengan doa yang diajarkan setan dahulu. Setan itupun keluar dan pergi dari gadis itu. Kemudian dia mulai shalat lagi, setan itu datang kembali dan menganggagu sang gadis. Maka tanpa sengaja tubuh gadis itu terbuka dan setan membisikkan Barseso, “Gaulilah gadis itu dan setelah itu kamu bisa bertaubat.” Dan setan pun berhasil, Barseso menggauli gadis tersebut sehingga gadis itu hamil dan terlihat mengandung.
Kemudian setan berkata kepada Barseso, “Celaka kamu Barseso, bila perbuatanmu itu terungkap. Maukah kamu membunuhnya dan setelah itu kamu bisa bertaubat. Dan apabila keluarganya menanyakan, maka katakan pada meraka bahwa gadis itu dibawa kabur oleh setan yang telah mengganggunya dan kamu tidak kuasa melawannya.” Maka Barseso masuk ke tempat gadis itu dan membunuhnya, lalu dikuburkan di lerang gunung. Pada saat Barseso mengubur gadis itu, setan datang dan menarik ujung pakaian gadis itu sehingga tidak tertimbun tanah dan nampak. Kemudian Barseso kembali ke kuil dan beribadah, tiba-tiba ketiga saudara gadis itu datang untuk menjenguk adik mereka. Mereka menanyakan keadaannya, “Wahai Barseso, apa yang telah kamu lakukan terhadap adik kami?” Dia menjawab, “Setan datang dan aku tidak mampu melawannya.” Maka mereka percaya dan pulang. Pada saat malam hari dalam suasana duka, setan datang dalam mimpi saudara gadis itu yang paling besar dan memberitahukan kejadian yang menimpa adiknya. Namun, orang tersebut tidak mempercayai mimpi itu dan meyakininya berasal dari setan. Setelah tiga malam berturut-turut datang dalam mimpi saudara paling besar tadi, namun tidak dihiraukan maka setan mendatangi kakak yang kedua dan ketiga, memberitahukan seperti yang disampaikan kepada kakak yang pertama. Kemudian ketiganya saling menceritakan apa yang dilihat dalam mimpi mereka dan ternyata sama. Lalu setan mendatangi mereka dan memberitahukan tempat dikuburnya adik mereka dengan ujung pakaiannya yang masih kelihatan. Lalu mereka pergi ke tempat yang ditunjukkan setan dan mendapati apa yang diberitakan olehnya.
Kemudian mereka pulang kepada keluarga dan familinya, lalu mendatangi kuil Barseso dengan membawa linggis dan kapak. Mereka menghancurkan kuil Barseso dan menangkapnya lalu dibawa di hadapan raja. Setan kembali membisiki Barseso, “Kamu membunuhnya kemudian kamu ingkar, akuilah perbuatan itu,” sehingga akhirnya Barseso mengakui perbuatannya. Lalu sang raja menjatuhkan hukuman mati kepadanya dengan disalib di kayu.
Dan sesungguhnya kebanyakan setan bisa masuk dan menggoda orang-orang yang sedikit ilmunya.
Pada saat disalib, setan putih mendatanginya. Lalu setan menawarkan bantuan untuk menyelamatkannya dengan bersujud kepada setan. Barseso menyetujuinya dan bersujud kepadanya. Setelah itu setan pun meninggalkannya dan berujar, “Wahai Barseso! Inilah yang saya kehendaki darimu. Akhirnya kamu mengikutiku dan kafir terhadap Tuhanmu. Sesungguhnya aku berlepas diri dari perbuatanmu dan aku takut terhadap Tuhan semesta alam.” Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 16-17,
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ  فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
Seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam". Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang dzalim.” (Diringkas dari Mashaibul Insan min Makaid syaithan oleh Syaikh al-Maqdisi al-Hanafi, Imam Thabari menyebutkan kisah Barseso ini dalam tafsirnya QS. Al-Hasyr: 16-17 dari jalur Ibnu Mas’ud, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah Juz II)
Dan sesungguhnya kebanyakan setan bisa masuk dan menggoda orang-orang yang sedikit ilmunya. Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Tulisan Terkait:

DR. ASHRAF EZZAT:THE DOWNFALL OF MUBARAK OF EGYPT

DR. ASHRAF EZZAT:THE DOWNFALL OF MUBARAK OF EGYPT

What is happening now in Egypt is historic by all means and all parties involved should acknowledge that and deal with it as such

Dr. Ashraf Ezzat / from Alexandria, Egypt for Veterans Today


“Without beating around the bush or postponing or playing us for fools and without more false promises, we, the people of Egypt, demand all of our long forgotten rights to be granted and this time there is no turning back … we have learned our lesson …we have finally broken free of all fears

… thus stated a written flier that has been circulating – by banned oppostion -all over major cities of Egypt in thousands of copies on the night before January, 25th or what is now known as the Egyptian day of wrath.
The flier contained a lot of economic and political demands amongst which;
  • Salaries and pensions increase that would cope up with the high prices and to include financial aid to the unemployed wide segment of the youth.
  • Cancel the law of emergency – that gives the government the right to abduct any citizen without need for any law warrant.
  • Egypt is no monarchy. 30 years are more than enough for Mubarak. He must go and his son Gamal- the probable successor or heir to his father’s presidency.
  • The dissolution of the current parliament- whose elections deemed fraudulent.
  • Fair and democratic parliamentary and presidential elections.
  • Ban Egyptian exports to Israel and mainly the Egyptian natural Gas.
The paper had been written in Arabic slang with a language that reflected a lot of spontaneity and simplicity, nevertheless, it managed to reflect how the Egyptians felt toward their current regime.
Egypt is ruled by an authoritarian and oppressive regime headed by Hosni Mubarak who has been in power for almost 30 years now.

Egypt under Mubarak’s regime

Hosni Mubarak
Egypt – once known amongst Arabs as the mother of the world- that used to be the leader nation of the Arab world during the presidency of late President Nasser has turned during Mubarak’s reign into a shadowy and subordinate political entity.
The deeply rooted corruption of the Mubarak regime has turned one of the oldest agricultural societies on earth into one of the world’s biggest importers of wheat.
Mubarak’s agricultural cooperation with Israel has destroyed Egypt’s production of the world’s finest cotton to be replaced by fields of carcinogenic[i] fruits and vegetables.
Mubarak’s autocratic rule has never allowed the emergence of actively participating secular parties and free democratic elections.
The education and health care systems have dramatically declined during Mubarak’s regime.
Freedom of speech and demonstration has been widely denied and human rights have been violated.
Mubarak has been busy setting the stage for his son Gamal to take over the kingdom he thought was immune from mutiny.
On Tuesday thousands of ordinary Egyptians took to the streets – drived by years of opprssion and not by any foreign agenda - chanting slogans calling for change and freedom.
Throughout the long history of Egypt its people seldom rallied in huge numbers except during the first half of the twentieth century when Egyptians were trying to liberate the country from the British colonialism and one unprecedented time when they spontaneously swarmed the streets in June 1967 denouncing president Nasser`s decision to resign following the setback brought about by the six -day war with Israel

What is happening now in Egypt is historic by all means and all parties involved should acknowledge that and deal with it as such.

Egyptian protestors and clashes with security
Egyptian protestors and clashes with security
The security forces managed to disperse the nearly thirty thousands protestors who were going to stay afoot and spend the night of Tuesday at Tahrir square in Cairo but that did not deter them, they hit the streets again the following day despite the prosecution and the brutality of the police forces which began to be more aggressive and to even fire live ammunition at protestors especially at the city of Suez  [ii] whose citizens are putting up a courageous street to street fight with police forces.
Egypt could not be compared to Tunisia as far as the security and military apparatus is concerned. Egypt enjoys one of the biggest military and police forces in Africa and the Middle East. But Tunisia has to be given the credit for the domino effect that is sweeping across the Arab world now.
Mubarak – being a former military man – knows very well that he needs the support of the army and police forces to keep his reign safe and secure. That’s why he keeps himself surrounded by a close ring of loyal and strong men in the police and the military and that’s why the downfall of Mubarak won’t be an easy job nor without sacrifice.

The demise of 30 years of authoritarianism

The authoritarian regime of Mubarak has been so stunned and taken by surprise by the swift and abrupt uprising of the Egyptians; it failed to respond yet by any official statement to what has been happening.
One thing is sure now, Mubarak’s credibility has been shattered, he can no longer look in the eyes of any ordinary Egyptian, and to me, this is the clear sign of the end of his long and agonizing reign over Egypt.
What is characteristic of any Muslim Metropolis city like Cairo is the peak of crowd of people that fills the streets and mosques after Friday prayers which often witness reference to the latest national events during its speech – khotbah- delivered by imams.
Most of the historic demonstrations in Egypt – against the French campaign (1789-1803) and against British occupation (1882-1936) erupted by people gathered after they had finished their assembly for Friday prayers at Al-Azhar mosque. Likewise, and keeping this legacy alive, free Egyptians are now calling for the assembly of around one million protestors next Friday to go on a never seen before rallies that will demand that Mubarak should go.
This political unrest in Egypt might take a while, the stubborn regime of Mubarak might buy some time and concede to some of the protestors demans, he might announce that this would be his last term in office and he might want to drive his son – as rumours say-out of the country but what is certain is that the downfall of Mubarak will be -if not next Friday- on any given Friday.
The Egyptian addiction to Authoritarianism is finally coming to an end.


Footnotes

[i] – http://challahhuakbar.blogspot.com/2011/01/israel-sending-agricultural.html
[ii] – http://english.aljazeera.net/news/middleeast/2011/01/201112621340630620.html

Egyptian protestors clashes with security [VIDEO]



Anti- Mubarak demonstrations in Cairo [VIDEO]


Dr Ashraf Ezzat is a medical doctor by profession. In his spare time he writes about ancient Egyptian history, Ancient Near Eastern history, comparative religion and politics especially the Arab- Israeli conflict. He is founder and board member of the bibliotheca Alexandrina friends society.
For more posts by Dr. Ashraf Ezzat visit his website at: http://ashraf62.wordpress.com/
Dr Ashraf Ezzat is a medical doctor by profession. In his spare time he writes about ancient Egyptian history, Ancient Near Eastern history, comparative religion and politics especially the Arab- Israeli conflict. He is founder and board member of the bibliotheca Alexandrina friends society. Dr Ashraf Ezzat is a medical doctor by profession. In his spare time he writes about ancient Egyptian history, Ancient Near Eastern history, comparative religion and politics especially the Arab- Israeli conflict. He is founder and board member of the bibliotheca Alexandrina friends society.
Bookmark & Share

Az-Zahra

Az-Zahra

Salam.






Setelah Fatimah az Zahra meningkat dewasa, telah tiba masanya untuk dia mendirikan rumah tangga. Dia menjadi seorang wanita yang solehah dan cantik lagi beriman. Cintanya pada Allah sangatlah tinggi. Kehidupannya yang susah membuatkannya tidak pernah merungut malah menyerahkan kepada Allah untuk menentukan. 


Lalu, apakah yang dia telah bersedia untuk mendirikan rumah tangga, dia melilau2 mencari teman hidup di jalanan? pastilah tidak :) adakah dia sibuk2 menjaja kebaikannya di khalayak ramai supaya diminati ramai? pastilah tidak. :)


Kemudian sahabat2 Rasulullah yang bukan calang2 hebatnya seperti Abu Bakar as-Siddiq dan Umar al-Khattab datang bertemu Rasulullah untuk meminang Fatimah az-Zahra.


Apabila Abu Bakar bertemu Rasulullah untuk meminang Fatimah, Rasulullah meminta supaya diberikan masa untuk berfikir. Namun, Abu Bakar tahu bahawa lamarannya ditolak.


Kemudian, Umar al-Khattab mencuba nasib. Jawaban yang sama diterima oleh Umar. Lalu Umar tahu bahawa lamarannya juga ditolak.


Sahabat2 meminta Ali bin Abi Thalib pula meminang Fatimah. Ali bin Abi Thalib pun pergi bertemu Rasulullah...


Lalu, Ali yang datang berjumpa dengan Rasulullah tersipu-sipu menyatakan isi hatinya. "Ya Rasulullah, sesungguhnya aku terkenangkan Fatimah."


Rasulullah dengan tersenyum menyatakan, "Selamat Datang!" Ternyata Rasulullah menerima lamaran Ali bin Abi Thalib untuk anaknya, Fatimah.


Rasulullah sebagai ayah sangat mengenali anak perempuannya Fatimah. Rasulullah tahu bahawa sememangnya  Fatimah menyukai Ali sejak kecil lagi kerana mereka merupakan teman sepermainan. Dan atas sebab itu juga Rasulullah menantikan lamaran Ali untuk anaknya, Fatimah sungguhpun sahabat rapatnya Abu Bakar dan Umar masuk meminang dahulu.

Abu Bakar dan Umar bukanlah sahabat yang calang2. Mereka merupakan nama sahabat yang disebut sebagai 10 orang yang dijamin syurga. Orang yang dijamin syurga bukanlah mereka yang cikai2. betul tak?

Apabila Rasulullah menantikan lamaran Ali bin Abi Thalib, sepertinya Rasulullah itu merupakan ayah yang saaaaangat prihatin dengan anak perempuannya, saaaangat mengenali anak perempuannya sehinggakan dia tahu isi hati anaknya. Dia tahu Fatimah mencintai Ali bin Abi Thalib. 

Sweetnye Rasulullah! :) and of course, sweetnye cinta Fatimah dan Ali. :)


p/s: Rasulullah tak melarang kita mencintai seseorang. malah dia menggalakkan. tapi, cinta itu perlulah berdasarkan cinta kepada Allah. bukanlah cinta yang tak berdasar sehingga membuatkan kita lupa dengan Allah dan merasa terawang-awang dengan cinta tu. 


cinta itu fitrah tapi fitrah itu mendekati kesucian dan bukan kehinaan. 


Wallahu a'lam

Islam itu syumul…

Islam itu syumul…