Tuesday, September 20, 2011

MESIR - Al Baridei Bakal Presiden Mesir?

Friday, January 28, 2011

MESIR - Al Baridei Bakal Presiden Mesir?

Para aktivis yang umumnya anak-anak muda, mereka menunjukkan kekuatan, di tengah hari, menjelang Jumaat, 19 Februari, mereka membawa bendera dan gambar El Baradei, ketika pemenang hadiah Nobel itu menjejakkan kakiknya di lapangan terbang internasional Kaherah. Para aktivis yang terdiri dari anak-anak muda, mereka mendeklarasikan El Baradei calon 'Presiden Mesir'. Mohamed El Baradei pernah menduduki posisi yang sangat penting sebagai Ketua IAEA (International Atomic Energy Atomic Agency) badan di PBB. Sekarang mendapatkan dukungan kalangan oposisi untuk menggantikan Hosni Mubarak. Kalangan pembangkang termasuk Ikhwanul Muslimin mendukung El Baradei untuk menjadi calon presiden Mesir, menggantikan Mubarak.
Rakyat Mesir memasuki tahap akhir perjuangan mereka yang akan mengakhiri rejim diktator Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun. Mubarak yang sudah 'gaek', dan berumur 81 tahun, sesudah pilihanraya parlemen yang lalu, yang dimenangkan NDP, masih menginginkan kembali ke tapuk kekuasaannya, pada pemilihan 2011 ini.
Mubarak belum memberikan kejelasan apakah anaknya Gamal, yang menggantikannya ketika ia berhalangan. Tetapi, Gamal sekarang sudah melarikan diri ke London. Tetapi, gagasan Mubarak yang ingin menjadi negeri yang berpenduduk 80 juta berjalan seperti monarkhi ini, mendapatkan tantangan yang keras dari kalangan pembangkang.
Mohamed El Baradei di nilai figur yang independen, yang boleh diterima semua kalangan, kalangan liberal, parti-parti pembangkang, dan kalangan Islamlis, termasuk Ikhwanul Muslimin. Menurut Baha' Ahmed, yang seorang ahli pharmasi, mengatakan, "Rakyat berbagai kalangan mendukungnya, seluruh Mesir, El Baradei politiknya sangat independen", ucap Baha' Ahmed.
Orang-orang datang menjelang malam yang memberikan dukungan kepada El Baradei, dan mengutuk Mubarak. Mereka mendukung tokoh yang pernah menjadi diplomat itu, dan mendapatkan hadiah Nobel, dan sekarang menjadi pemimpin pembangkang Mesir untuk menggantikan Mubarak. "Kami mencintai Mesir, tetapi menentang pemerintah. Percaya kepada saya, semua rakyat Mesir memusuhi Mubarak", ucap Ayman Helman, seorang manager perusahaan di Kaherah. "Mesir mempunyai 1.000 alternatif. Dan El Baradei diantaranya", tambahnya.
El Baradei pernah bekerja sebagai pengawas senjata nuklear selama 12 tahun, dan tinggal di Wina, berhadapan dengan pemerintahan Bush, berkaitan dengan isu nuklear Iraq, ketika AS melakukan invasi ke Irak tahun 2003. Tahun 2005, El Baradei mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian atas jasanya dalam rangka pengurangan senjata nuklear.
Tetapi, apakah nanti El Baradei akan berjaya sampai ke puncak kekuasaan di Mesir sebagai Presiden? Semuanya masih bergulat menghadapi rejim Mubarak, yang mencuba terus bertahan menghadapi gerakan rakyat yang menginginkan perubahan. (m/tm)
sumber

Song of the week, in support of the people of Egypt, Tunisia and Yemen: Positive Effect!

Song of the week, in support of the people of Egypt, Tunisia and Yemen: Positive Effect!
Friday, 28 January 2011 09:2 1
All Arabs in the world are watching the developments in Tunisia, Egypt and Yemen, and admiring the courage of the people to stand up for their rights and their freedom! They are joined by all those in the global community who believe that no people should suffer oppression and injustice.

To celebrate the new Arab awakening, this week's free song of the week is Palestinian artist Doc Jazz's 'Positive Effect' !! Positive Effect was written in 2005, and was re-recorded in 2007 for Doc Jazz's flagship album 'Front Door Key', the album dedicated to the right of return of the Palestinian people.

Still, the words of this song ring true for issues that are bigger than just the Palestinian issue. We are seeing an awakening of the Arab conscience and desire for self-determination, and if you read the words of the first verse of this song, you will know how they apply to the current situation:

"There's a light on the horizon, and darkness starts to fade - and all the shadows lose their deep dark corners, reveal what was in their shade". In another section of the song, it says "Free Palestine, Free Iraq, right now!", also signifying that this song calls for a Positive Effect that reaches far beyond the borders of historical Palestine.

You can read the lyrics to the song at the bottom of this page, and you can listen to the mp3 here, and download the song for free from here !
Also, check out this video on Youtube which features a clip from PressTV's program 'Remember Palestine', which regularly played the music of Doc Jazz in their show. On April 10, 2010, the song Positive Effect was broadcast, along with a video clip made by the producers of the program. Check it out here below, the song starts playing after a short introduction by Lauren Booth !





Positive Effect - by Doc Jazz

I can't wait ....

I Can't wait
Till freedom comes
And life will be so dear

I can't wait
Till the darkness goes
After all these years

-
There's a light on the horizon
And darkness starts to fade
And all the shadows lose their deep dark corners
Reveal what was in their shade

What we need is some positive effect
Something real to reinforce our self-respect
Do you feel the effect is quite direct
What you feel when you put your hand in mine

-

There's always reason for complaining
But there also comes a time
When people put their hands together
And resolve all nations' crimes

If we agree that we're all equal
Then why infringe on another's rights?
Abuse their power and their magnitude
Do they believe that right is might?

-

Why keep on sending in their soldiers
To bend the flow of oil their way?
Why do they prove to the rest of the world
That they can't deal with the power without going astray? *

Just to feed the greed of the corporate industries
They declare a permanent state of war in their ministries
Do they believe the people of the world dont see the discrepancies?
"Spread democracy" is the word, but the truth is malignancy

What's their justification
For the destruction of these nations
For all the killing, and billing, and banking, and spilling
Takes us one step back in humanity
And one step forward in primitivity
Free Palestine, free Iraq right now
It's the only way we can advance anyhow
Let's join our hands together, put these words into effect
Let's return to the world its self-respect!
*) this verse was not included in the Front Door Key version of the song.
Copyright (c) 2005 Doc Jazz

Sos Yong Tau Foo

Sos Yong Tau Foo

Dscf4278_resize
sedap... sedap... mari try... untuk org yang jauh dari kampung halaman.

Created on : 02-08-2007



679Share


Bahan-bahan ( 1 family )

  • SOS HITAM:
  • 560ml air
  • 1 kiub stok bilis
  • 1 camb kicap pekat/hitam
  • 2 camb sos kacang hitam ( OR taucu )
  • 1 camb sos hoisin
  • 2 camb gula pasir
  • 1/8 camt serbuk rempah lima
  • garam secukupnya
  • 3 camb air, dicampur 1½ camb tepung jagung (atau ikut kepekatan tersendiri)
  • SOS CILI:
  • 8 biji cili merah, dibuang biji
  • 2 camt bijan goreng/bakar
  • 100ml cuka
  • 2 camb sos plam
  • 3 camb gula
  • garam secukupnya

Cara-cara

  1. SOS HITAM YONG TAU FOO:
  2. Jerang air, stok bilis, kicap pekat, sos kacang hitam, sos hoisin, gula pasir dan serbuk rempah lima di atas api perlahan. Kacau hingga mendidih, masukkan campuran tepung masak. Kacau tanpa henti selama 2-3 minit lagi atau hingga pekat.
  3. SOS CILI YONG TAU FU:
  4. Kisar cili dan bijan hingga halus. Jerang cuka di atas api perlahan. Masukkan bahan kisar dan semua bahan lain, ketepikan dari api, biar sejuk
  5. note : garam & gula - ikut selera
  6. note: kalau nak buat 1 sos saja, Sos Hitam Pedas, tambahkan cili boh ke dalam (step 2) mengikut kepedasan masing2 dan sedikit cuka.
  7. Dscf4306_resize
    Sos Hoisin & Plum sauce yg kat Ireland. Msia & other country maybe brand yg berbeza.

wanita yang Berpakaian Tapi Telanjang, Sadarlah!

wanita yang Berpakaian Tapi Telanjang, Sadarlah!

Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.
Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.
Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.
Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini

Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!

Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih baik ....

Baca artikel selanjutnya "Syarat-syarat Pakaian Muslimah yang Sempurna"

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Shalat Tahajud

Shalat Tahajud

Pertanyaan:
Saya punya masalah ibadah. Saya khawatir bila ibadah saya ini terperosok (ke dalam) kebid’ahan. Di antaranya adalah tentang shalat tahajud. Tentang status shalat tersebut, adakah dalil yang menguatkannya ataukah tidak? Tolong bimbingan Redaksi untuk saya. Sekian dulu dari saya. Mudah-mudahan kita semua selalu dalam lindungan Allah.

Jawaban:
Shalat tahajud–atau disebut dengan shalat lail (malam)–merupakan ibadah yang sangat ulama. Tidak pantas bagi seorang muslim untuk menyepelekannya.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اَلْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Puasa yang paling utama setelah ramadhan adalah muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat lail (malam).
” (HR. Muslim, no. 1163).
Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang melalaikannya, berdasarkan hadis,
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: ذُكِرَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَةً حَتَّى أَصْبَحَ. قَالَ: ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِيْ أُذُنَيْهِ أَوْ قَالَ فِيْ أُذُنِهِ
Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Pernah diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang tidur malam hingga shubuh. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan telah kencing pada kedua telinganya,” atau beliau bersabda, “… pada telinganya.” (HR. Bukhari, no. 1144; Muslim, no. 774)
Serta masih banyak lagi dalil tentang keutamaan shalat lail ini. (Lihat Riyadhush Shalihin, hlm. 426–431, karya Imam Nawawi)
Fikih Hadis:
1. Keutamaan shalat malam, dan celaan bagi orang yang meremehkannya.
2. Cara pelaksanaannya adalah dengan mengerjakan dua rakaat, lalu dua rakaat, kemudian diakhiri dengan witir. (Bukhari, 1:561 dan Muslim, no. 749)
3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat malam, baik di bulan ramadhan maupun selainnya, lebih dari sebelas rakaat. (Bukhari, no. 1147 dan Muslim, no. 738)
Dikutip dari: Majalah Al-Furqon, Edisi 11, Tahun II, 1424 H.
Dengan pengeditan oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com
Kata Kunci Terkait: beda sholat tahajud dan sholat lail, sholat tahajud bulan ramadhan, puasa, bolehkah solat tahajud di bulan ramadan, bolehkah tahajud di ramadhan, hukum shalat tahajud di ramadhan, pahala sholat tahajud bulan ramadhan, shalat tarawih shalat lail, witir, apa setelah sholat taraweh masih boleh sholat tahajud

About the author

KonsultasiSyariah.com adalah situs rujukan untuk Fatwa dan Tanya Jawab seputar Pendidikan Islam dan Keluarga berbahasa Indonesia. KonsultasiSyariah.com diasuh oleh tim ahli syariah. Silakan lihat halaman "Tentang Kami" untuk info selengkapnya.

Egypt, Tunisia, and the fight against US imperialism

Egypt, Tunisia, and the fight against US imperialism

28 January 2011
Two weeks after US Secretary of State Hillary Clinton warned Arab leaders that their region’s “foundations are sinking into the sand”, the growing revolutionary upsurge of the masses has revealed that the pillars of Washington’s own policy in the Middle East are rotten and crumbling.
The mass uprising that toppled the 23-year rule of Tunisian dictator Zine al-Abidine Ben Ali has now been followed by tens of thousands of young demonstrators in Egypt taking to the streets, defying security forces, and in increasing numbers giving their lives, to demand the downfall of Hosni Mubarak and his nearly three-decade-old regime. Thousands more demonstrated Thursday in the Yemeni capital of Sanaa, calling for the ouster of Ali Abdullah Saleh, who has ruled the country for more than 30 years.
In every case, masses of youth and workers have risen up against regimes that are synonymous with social inequality, corruption, political repression and torture and which have been firmly aligned with and largely financed by US imperialism. They have been driven to act by the same conditions of unemployment, rising prices and government abuse that led the young Tunisian Mohamed Bouazizi to set himself ablaze in protest, inspiring the demonstrations that swept his homeland.
These conditions have rendered life increasingly intolerable for millions of people throughout the region, while denying the younger generation any future. They are the legacy of an entire epoch of colonial domination followed by the inability and unwillingness of the bourgeois nationalist movements of the region to forge any independence from imperialism. Now these conditions of mass poverty and oppression have been deepened immensely by a historic crisis of world capitalism that has its center in the United States itself.
It is nearly a decade since the administration of George W. Bush, utilizing the September 11, 2001 attacks as a pretext, launched wars first in Afghanistan and then in Iraq, with the aim of exploiting US military supremacy to establish the unchallenged hegemony of American imperialism in the region. Having cost the lives of over a million people and drained the US economy of over a trillion dollars, these continuing wars and occupations have achieved none of their original goals, while deepening the hatred toward Washington throughout the Middle East and internationally.
During the heady days of imperialist triumphalism that accompanied the launching of these wars, the Bush administration proclaimed its support for a “freedom agenda.” It advanced the thesis that a “liberated” Iraq would serve as an inspiration for the masses of the region to embrace “freedom” and “democracy” while aligning themselves with the interests of the United States and Israel.
Washington’s purported support for democracy and free elections in the region was short-lived. A parliamentary election in Palestinian occupied territories delivered a clear victory to the Islamist Hamas movement, which rejected the framework of the US-sponsored “peace process” and the US responded by supporting an attempted coup and then a partition of the West Bank and Gaza, with the Palestinian people subjected to unceasing collective punishment for their choice at the ballot box.
Similarly, the recent coming to office of a government backed by the Hezbollah movement in Lebanon, in accordance with the rules of the country’s parliamentary system, has been treated by Washington as an illegitimate coup prompting threats of aid cutoffs and even military aggression.
In an interview on National Public Radio, Thursday, Graeme Bannerman, the former Middle East analyst on the US State Department Policy Planning Staff, voiced the real position of the US government—under both Bush and Obama—hidden by all of the rhetoric about supporting reform and human rights.
“Popular opinion in the Middle East runs so against American policies,” he said, “that any change in any government in the Middle East that becomes more popular will have an anti-American and certainly less friendly direction towards the US which will be a serious political problem for us.”
Nowhere is this more true than in Egypt. For 34 years, ever since Anwar Sadat made his trip to Jerusalem and subsequently signed the Camp David accords with Israel, the US has backed the military dictatorship headed first by Sadat and then his successor, Mubarak.
Egypt has served as the linchpin of US policy in the Middle East. In return, the US has lavished $1.3 billion in military aid upon the Egyptian regime every year. The bullets, tear gas and truncheons employed against the youth and workers demonstrating in Cairo and elsewhere bear the clear stamp of “Made in the USA.”
From the outset of the spreading revolt in the Middle East, official Washington has been taken aback by events. In Tunisia, just three days before Ben Ali boarded an aircraft and fled the wrath of his own people for exile in Saudi Arabia, US Secretary of State Clinton expressed her concern over the “unrest and instability” in the country, while extolling the “very positive aspects of our relationship” with the country’s longtime dictator. She insisted that Washington was “not taking sides,” as US trained and equipped troops were shooting down demonstrators in the streets.
Only after the downfall of its ally Ben Ali, did the Obama administration discover, in the president’s words, “the courage and dignity of the Tunisian people.” In his State of the Union speech he proclaimed that the US “stands with the people of Tunisia.” He extended no such verbal backing to the people of Egypt, where that very day riot squads and secret police thugs had carried out mass arrests and beaten demonstrators and journalists alike.
On Thursday, Vice President Joe Biden made clear the administration’s continued commitment to the hated dictatorship in Egypt. “Mubarak has been an ally of ours on a number of things. And he’s been very responsible … relative to (US) geopolitical interests in the region … to normalizing relationship with Israel,” Biden declared. “I would not refer to him as a dictator,” he added, insisting that Mubarak should not step down.
The unmistakable message is that if the Mubarak regime must resort to a bloodbath to prevent being overthrown by the masses in the streets, it will be firmly supported by Washington. All of the talk about urging the regime to carry out self-reform is utterly hollow. The time when the sclerotic Egyptian dictatorship of the 82-year-old Mubarak was even capable of such measures is long past.
Meanwhile, as the Wall Street Journal put it Thursday, “the US is trying to re-channel the spreading anger in the region.” It has dispatched Jeffrey Feltman, the top US State Department official for the region, to Tunis to oversee the maneuvers aimed at salvaging the Ben Ali dictatorship without Ben Ali. In Egypt, the arrival in Cairo of Mohamed ElBaradei, the Nobel Peace Prize winner and former head of the UN nuclear regulatory agency, may well signal the launching of a US initiative aimed at achieving a negotiated settlement.
Washington fears, above all, the entry into mass political struggle of the tens of millions of Egyptian workers. In a country where 40 percent of the population subsists at the poverty level of $2 a day or less, US-fostered “freedom” has been delivered in the form of “free market” capitalism, which has promoted wholesale privatizations, opening of markets and other measures that have enriched a thin layer at the top, while driving the bulk of the population into deepening misery.
The global capitalist crisis that is fueling the upheavals in the Middle East has its center within the United States itself. The debacle confronting Washington in the region is a telling measure of the deepening decline of US imperialism.
The workers of Tunisia, Egypt, Yemen, Jordan, Algeria and elsewhere in the region who are entering mass struggles will find their greatest ally in the working class of the United States, which is confronting the deepest attacks on jobs, living standards and basic rights in its history.
The demands of the workers and youth who have taken to the streets of Tunis, Cairo and other Arab cities for jobs, livable wages and democratic rights can only be achieved in a revolutionary struggle to put an end to capitalism, which is incapable of meeting even the most basic needs of the working population in any country.
The burning task posed by these events is the building of a new revolutionary leadership, fighting for the unification of the working class across national boundaries in the struggle for the United Socialist States of the Middle East and the Maghreb as part of the world socialist revolution. This means building sections of the International Committee of the Fourth International throughout the region.
Bill Van Auken

Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran

Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah keatas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya, shahabatnya dan mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
Phenomena yang terjadi baru-baru ini yaitu kemunculan jejak UFO berupa circle crop di Sleman Yogyakarta menggegerkan rakyat Indonesia terutama warga sekitar karena ini yang pertama terjadi di negara kita.
Sebagian orang langsung percaya bahwa itu memang jejak UFO dan memang makhluk luar angkasa benar-benar ada, sedangkan sebagian orang terburu-buru mengingkarinya dan mengatakan bahwa makhluk luar angkasa itu tidak ada.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang muslim yang diwajibkan percaya kepada yang ghaib yang tidak bisa kita lihat menyikapi phenomena seperti ini?
Bagaimana phenomena makhluk luar angkasa jika ditinjau dari Al-Qur’an?
Harus diketahui bahwa Yang menciptakan manusia dari tidak ada dan membentuknya dan meniupkan padanya dari ruh-Nya, dan mengokohkan ciptaan alam semesta ini termasuk keajaiban yang ada didalamnya, adalah juga Maha Kuasa untuk menciptakan luar angkasa dan makhluknya, Al-Qur’an telah menunjukkan adanya makhluk-makhluk yang tidak diketahui oleh manusia dimasa kenabian, demikian juga Al-Qur’an menunjukkan peran dari penemuan ilmiyah, dan bahwa setiap berita akan ada waktu kemunculannya, Allah Azza wa Jalla berfirman:
(وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ) (النحل:8)
Artinya: (dan dia telah menciptakan kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.) [QS An-Nahl: 8].
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa ada beberapa makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta'aala dari jenis hewan yang kita tidak mengetahuinya, ini karena Allah Ta'aala menyambungkan makhluk tersebut dengan kuda, bagal dan keledai yang merupakan jenis hewan.
Dan disebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa ayat lainnya yang sepertinya mengisyaratkan adanya binatang di langit dan bumi, diantaranya firman Allah Ta’alaa:
(وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاء قَدِيرٌ) (الشورى:29)
Artinya: (di antara tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya) [QS Asy-Syuura: 29].
Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz daabbah (makhluk melata)menunjukkan bahwa itu makhluk-makhluk selain malaikat karena Allah Azza wa Jalla membedakan antara makhluk yang melata dengan malaikat dalam menyebutkannya dalam firman-Nya:
(وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ) (النحل:49)
Artinya: (dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri) [QS An-Nahl: 49).
Allah Ta’alaa menyebutkan dalam ayat diatas makhluk-makhluk melata di langit dan makhluk melata di bumi kemudian baru menyebutkan para malaikat.
Dengan ayat-ayat seperti ini sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak ada salahnya ini menjadi isyarat atas wujudnya alam-alam lain, akan tetapi sepatutnya kita tidak memastikan hal ini, karena ayat-ayat seperti ini bisa mengandung kemungkinan lebih dari satu pentakwilan.(Fatwa dari Syeikh Abdullah Al-Faqih hadidzohullah Ta'alaa)
Adapun pendapat bahwa makhluk-makhluk ini yang menciptakan manusia dengan bentuk yang menyerupainya dengan perantara DNA dan bahwa dia merupakan kekuatan ajaib yang mengakibatkan wujudnya manusia, maka ini secara hakikatnya merupakan pendapat yang batil yang menafikan akidahnya.
Kesimpulan:
Meskipun Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam beberapa ayatnya tentang kemungkinan keberadaan makhluk di luar angkasa, namun kita tidak boleh memastikan bahwa phenomena yang terjadi di bumi merupakan jejak keberadaan mereka, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat secara langsung wujud mereka seperti yang sering dilukiskan dalam film-film, demikian juga kita tidak boleh menafikan secara langsung keberadaan mereka karena Al-Qur’an telah memberi isyarat yang memungkinkan keberadaan mereka.
Tapi kita tidak boleh terlalu menyibukkan diri mendalami tentang masalah ini karena bukan termasuk perkara ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kita untuk mengharap pahala dan ridlo-Nya di dunia dan akhirat.
Wallau A’lam bishowab.
(ar/voa-islam.com)