Wednesday, February 9, 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW


Pendahuluan
Dalam sumber-sumber bacaan yang ada telah banyak sekali ditulis bahwa Jazirah Arab sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh Muhammad terkenal dengan istilah masyarakat jahiliah. Mereka mempunyai kebiasaan mengubur bayi perempuan mereka karena takut akan kefaqiran sehingga kaum perempuan ketika itu tidak memiliki derajat yang tinggi. Selain itu, masing-masing kabilah yang ada di Jazirah Arab berpandangan superior terhadap kabilah-kabilah yang lain maka saling bunuh-membunuh merupakan sebuah perbuatan yang tidak asing lagi.
Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang tidak maju. Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sesetengahnya merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi. Mekah ialah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karena di situ terdapat berhala-berhala agama mereka, Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali adalah Ka’bah.
Dengan kedatangan Muhammad yang membawa risalah dari Allah atau sebagai utusan Allah menyampaikan ajaran agama Islam ke dunia ini, berhasil memberikan pencerahan bagi segenap umat manusia yang hidup di Jazirah Arab secara khusus dan yang hidup di lain tempat secara umum. Selain itu, ketika Muhammad menyampaikan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat Arab yang berada dalam perselisihan yang hebat menimbulkan resistensi keras dari mereka.
Maka dalam makalah ini akan dibahas sejarah hidup Muhammad ke dalam dua bahasan: pertama, sebelum masa kerasulan, dan kedua, setelah masa kerasulan.

Sebelum Masa KerasulanMuhammad dilahirkan di Mekah dalam Tahun Gajah (570 M) yang merupakan anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang berkuasa dalam suku Quraisy. Kabilah ini memegang jabatan siqayah. Beliau merupakan seorang anak yatim sesudah ayahnya Abdullah meninggal dunia tiga bulan setelah dia menikahi Aminah, anak Abdul Muthalib, seorang kepala suku Quraisy yang sangat besar pengaruhnya. Ibunya Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah. Ketika itu Muhammad diasuh oleh Halimah al-Sa’diyyah ibu asuhnya sampai usia empat tahun. Setelah itu, kurang lebih dua tahun dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika berusia enam tahun dia menjadi yatim piatu. Setelah aminah meninggal, kakeknya yaitu Abdul Muthalib mengambil peran tanggung jawab merawat Muhammad. Tapi, waktu terus berjalan dua tahun kemudian kakeknya meninggal dunia karena sakit. Tanggung jawab selanjutnya beliau dibesarkan oleh pamannya yaitu Abu Thalib. Sama seperti Abdul Muthalib yang disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk mekah secara keseluruhan.
Abu Thalib mencintai keponakannya itu sama seperti Abdul-Muthalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan keponakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya.
Muhammad pada usia mudanya, yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata: "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing." Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad." Karena jiwanya yang besar, yang kemudian pengaruhnya tampak berkilauan menerangi dunia, jiwa besar yang selalu mendambakan kesempurnaan, itu jugalah yang menyebabkan dia menjauhi foya-foya, yang biasa menjadi sasaran utama penduduk Mekah. Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak masa ia kanak-kanak gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati sudah tampak, sehingga penduduk Mekah semua memanggilnya Al-Amin (artinya 'yang dapat dipercaya').
Pernah pada suatu ketika Muhammad akan pergi ke Syiria (Syam) membawa dagangan pamannya, ketika itu usia Muhammad baru dua belas tahun mengingat sulitnya perjalanan menyeberangi padang pasir, tak terpikirkan oleh pamannya akan membawa Muhammad. Akan tetapi Muhammad yang dengan ikhlas menyatakan akan menemani pamannya itu, itu juga yang menghilangkan sikap ragu-ragu dalam hati Abu Thalib. Anak itu lalu turut serta dalam rombongan kafilah, hingga sampai di Bushra di sebelah selatan Syam. Dalam buku-buku riwayat hidup Muhammad diceritakan, bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan, bahwa rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.
Ketika berusia sekitar dua puluh lima tahun, pamannya, Abu Thalib menyarankan dia untuk bekerja dengan kafilah (rombongan perniagaan) yang dimiliki oleh seorang janda kaya yang bernama Khadijah. Beliau diterima bekerja dan bertanggung jawab terhadap perniagaan ke Syam (Syria). Beliau mengelola urusniaga itu dengan penuh bijaksana dan pulang dengan keuntungan luar biasa. Beliau kemudian menikahi Khadijah. Mereka dikaruniakan 6 orang anak (2 lelaki dan 4 perempuan) tetapi kedua anak lelaki mereka, Qasim dan Abdullah meninggal ketika masih kecil. Sedangkan anak perempuan beliau ialah Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum dan Fatimah. Muhammad tidak kawin lagi sampai khadijah meninggal ketika Muhammad berusia lima puluh tahun.

Masa KerasulanMuhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Beliau sungguh sedih sehingga beliau seringkali ke Gua Hira', sebuah gua bukit dekat Mekah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal al-Nur untuk memikirkan cara untuk mengatasi gejala yang dihadapi masyarakatnya. Di sinilah beliau sering berfikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kejahiliyyahan.
Pada suatu malam, ketika beliau sedang bertafakur di Gua Hira', Malaikat Jibril mendatangi Muhammad. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Beliau diminta membaca. Beliau menjawab, "Saya tidak bisa membaca". Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad untuk membaca, tetapi jawaban beliau tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS 96: 1-5). Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu dia berusia empat puluh tahun. Wahyu itu turun kepada beliau secara berangsur-angsur dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun. Wahyu ini telah diturunkan menurut panduan yang diberikan Muhammad dan dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al-Quran (bacaan). Kebanyakkan ayat-ayatnya mempunyai arti yang jelas. Sebagiannya diterjemahkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain. Sebagiannya pula diterjemahkan oleh Nabi Muhammad sendiri melalui percakapan, tindakan dan persetujuannya yang terkenal, dengan nama As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah digabungkan bersama sebagai panduan dan cara hidup mereka yang menyerahkan diri kepada Allah.
Setelah wahyu itu diturunkan, jibril tak kunjung datang untuk beberapa waktu, sedangkan Muhammad ketika itu masih dalam keadaan menggigil, napasnya terasa sesak dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya: "Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Dan agungkan Tuhanmu. Pakaianmupun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu."
Dengan turunnya wahyu ini, maka jelaslah sudah apa yang harus beliau kerjakan dalam menyampaikan risalahnya, yaitu mengajak umat manusia menyembah Allah yang maha esa, yang tiada beranak dan tidak pula diperanakan serta tidak sekutu baginya. Inilah permulaan perintah menyiarkan agama Allah kepada seluruh umat manusia.
Karena itulah, orang yang pertama kali dalam dakwah beliau secara sembunyi yaitu Khadijah istri beliau. Kemudian sepupunya Ali ibn Abi Thalib ketika itu masih berumur sepuluh tahun, dan Zaid ibn Haritsah budak beliau kemudian menjadi anak angkat beliau. Lalu sahabat Nabi sendiri yang sangat percaya pada kebenaran Nabi Muhamad yaitu Abu Bakar, dari kalangan masyarakatnya yang dipercayai oleh Abu Bakar diajaknya mereka kepada Islam. Utsman ibn 'Affan, Abdurrahman ibn 'Auf, Talha ibn 'Ubaidillah, Sa'ad ibn Abi Waqqash dan Zubair bin'l-'Awwam mengikutinya pula menganut Islam. Kemudian menyusul pula Abu 'Ubaida bin'l-Djarrah, dan banyak lagi yang lain dari penduduk Mekah. Mereka yang sudah Islam itu lalu datang kepada Nabi menyatakan Islamnya, yang selanjutnya menerima ajaran-ajaran agama itu dari Nabi sendiri.
Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya ia mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan itu, perintah Allah supaya disampaikan. Ketika itu wahyu datang: "Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang dekat. Limpahkanlah kasih-sayang kepada orang-orang beriman yang mengikut kau. Kalaupun mereka tidak mau juga mengikuti kau, katakanlah, 'Aku lepas tangan dari segala perbuatan kamu.'" "Sampaikanlah apa yang sudah diperintahkan kepadamu, dan tidak usah kauhiraukan orang-orang musyrik itu." Muhammad pun mengundang makan keluarga-keluarga itu ke rumahnya, dicobanya bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Thalib, pamannya, lalu memberhentikan pembicaraan itu. Ia mengajak orang-orang pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya sekali lagi Muhammad mengundang mereka.
Selesai makan, katanya kepada mereka: "Saya tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab ini dapat membawakan sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari yang saya bawakan kepada kamu sekalian ini. Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan telah menyuruh aku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu ini yang mau mendukungku dalam hal ini?". Mereka semua menolak, dan sudah bersiap-siap akan meninggalkannya. Tetapi tiba-tiba Ali bangkit - ketika itu ia masih anak-anak, belum lagi balig. "Rasulullah, saya akan membantumu," katanya. "Saya adalah lawan siapa saja yang kautentang."
Sesudah itu Muhammad kemudian mengalihkan seruannya dari keluarga-keluarganya yang dekat kepada seluruh penduduk Mekah dari berbagai lapisan masyarakat arab dengan dakwahnya secara terang-terangan. Mulai dari bangsawan hingga hamba sahaya, sampai-sampai ke negri lain. Di samping itu pula nabi menyeru kepada penduduk mekah yang baru datang untuk melaksanakan haji. Kegiatan dakwah ini akhirnya mengambil pelajaran positif bagi kalangan umat Islam. Pada akhirnya bangsa arab banyak sekali mengikuti ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad.
Setelah dakwah terang-terangan, dari pihak Quraisy mulai menghalangi dakwah nabi. Semakin banyak pengikut nabi maka semakin cepat arus rintangan dan tantangan dari pihak Quraisy. Banyak cara yang di tempuh dari pihak Quraisy untuk menghalangi dakwah nabi. Abu Thalib pamannya belum lagi menganut Islam. Tetapi tetap ia sebagai pelindung dan penjaga kemenakannya itu. Ia sudah menyatakan kesediaannya akan membelanya. Atas dasar itu pemuka-pemuka bangsawan Quraisy - dengan diketahui oleh Abu Sufyan ibn Harb - pergi menemui Abu Thalib.
"Abu Thalib," kata mereka, "kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat nenek-moyang kita. Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau tidak biarlah kami sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi dia."
Akan tetapi Abu Talib menjawab mereka dengan baik sekali. Sementara itu Muhammad juga tetap gigih menjalankan tugas dakwahnya dan dakwa itupun mendapat pengikut bertambah banyak.
Quraisy segera berkomplot menghadapi Muhammad itu. Sekali lagi mereka pergi menemui Abu Thalib. Sekali ini disertai 'Umara bin'l-Walid bin'l-Mughira, seorang pemuda yang montok dan rupawan, yang akan diberikan kepadanya sebagai anak angkat, dan sebagai gantinya supaya Muhammad diserahkan kepada mereka. Tetapi inipun ditolak. Muhammad terus juga berdakwah, dan Quraisy pun terus juga berkomplot.
Berat sekali bagi Abu Thalib akan berpisah atau bermusuhan dengan masyarakatnya. Juga tak sampai hati ia menyerahkan atau membuat kemenakannya itu kecewa. Gerangan apa yang harus dilakukannya? Dimintanya Muhammad datang dan diceritakannya maksud seruan Quraisy. Lalu katanya: "Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul." pamannya seolah sudah tak berdaya lagi membela dan memeliharanya. Ia sudah mau meninggalkan dan melepaskannya. Sedang kaum Muslimin masih lemah, mereka tak berdaya akan berperang, tidak dapat mereka melawan Quraisy yang punya kekuasaan, punya harta, punya persiapan dan jumlah manusia. Sebaliknya dia tidak punya apa-apa selain kebenaran. Dan atas nama kebenaran sebagai pembelanya ia mengajak orang. Tak punya apa-apa ia selain imannya kepada kebenaran itu sebagai perlengkapan. Terserahlah apa jadinya! Hari kemudian itu baginya lebih baik daripada yang sekarang. Ia akan meneruskan misinya, akan mengajak orang seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Lebih baik mati ia membawa iman kebenaran yang telah diwahyukan kepadanya daripada menyerah atau ragu-ragu. Karena itu, dengan jiwa yang penuh kekuatan dan kemauan, ia menoleh kepada pamannya seraya berkata: "Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya." Pamannya masih dalam kebingungan antara tekanan masyarakatnya dengan sikap kemanakannya itu. Tetapi kemudian dimintanya Muhammad datang lagi, yang lalu katanya: "Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!"
Gangguan terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya. Waktu itu Muhammad menyarankan supaya mereka terpencar-pencar.Ketika mereka bertanya kepadanya kemana mereka akan pergi, mereka diberi nasehat supaya pergi ke Habsyah (Abisinia) yang rakyatnya menganut agama Kristen. "Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua." Sebagian kaum Muslimin ketika itu lalu berangkat ke Abisinia guna menghindari fitnah dan tetap berlindung kepada Tuhan dengan mempertahankan agama. Mereka berangkat dengan melakukan dua kali hijrah. Yang pertama terdiri dari sebelas orang pria dan empat wanita. Dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar dari Mekah mencari perlindungan. Kemudian mereka mendapat tempat yang baik di bawah raja Najasyi. Usaha-usaha yang dilakukan quraisy untuk menghalangi hijrah ke Habsyah ini, termasuk membujuk raja Najasyi agar menolak ajakan umat islam di sana, tetapi gagal bangsa Quraisy membujuk raja tersebut. Makin banyak sekali kekejaman yang dilakukan Quraisy untuk menghentikan dakwah nabi, akan tetapi dengan bertambahnya kekejaman tersebut makin banyak pula orang masuk Islam. Terutama dua orang Quraisy yang masuk Islam, Hamzah ibn Abdul Muthalib dan Umar ibn Khathab. Dengan masuknya dua tokoh ini umat Islam menjadi kokoh.
Dengan masuknya Hamzah dan Umar dalam barisan Islam itu, membuat pihak Quraisy merasa jengkel. Oleh sebab itu mereka memperhebat usaha mereka untuk mengancurkan gerakan nabi Muhammad.
Demikianlah sejarah singkat Muhammad SAW yang saya tulis dalam makalah ini, mohon maaf apabila terdapat banyak kekurangan.

Daftar Pustaka:1. Departeman Agama Republik Indonesia, Al-Qur`an dan Terjemahnya: Sejarah Ringkas Nabi Muhammad, Edisi Revisi, Mahkota: Surabaya 1971.
2. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Rajawali Pers: Jakarta 2001.
3. Karen Armstrong, Muhammad: Biografi Sang Nabi, terj: Joko Sudaryanto, Jendela: Yogyakarta 2004


http://darul-ulum.blogspot.com/2006/12/sejarah-hidup-muhammad-saw-pendahuluan.html

No comments:

Post a Comment